Siapakah yang Akan Mampu Menjembatani Jurang Diantara
Kita?
Oleh : ATIKAH
Puisi
berjudul “Jembatan” dibuat pada tahun 1998.
Berarti sudah 14 tahun yang lalu. Tetapi menurut saya puisi ini tetap aktual sampai
sekarang. Bukan dari sudut pandang waktu yang memakannya, tapi dari isi
permasalahan yang puisi ini bawa. Isi puisi ini masih aktual sampai sekarang.
Karena dalam puisi ini mempermasalahkan tentang beberapa hal yang
dihadapi di masa lalu dan juga pada saat ini.
Jembatan adalah salah satu alat bantu atau sarana untuk menghubungkan
satu bagian ke bagian lainnya. Jembatan biasanya digunakan dalam kehidupan
masyarakat kita sebagai penghubung jalan satu dengan jalan yang lainnya. Tetapi
pada puisi “Jembatan” memiliki makna penghubung perasaan satu bangsa pada
masyarakat Indonesia.
Puisi "JEMBATAN"
Karya Sutardji Calzoum Bachri bisa dihubungkan dengan
keadaan penyair tersebut melalui kata-katanya. Kata-kata yang menunjukkan
keadaan penyair bisa ditelaah
melalui hakikat puisi secara intrinsik, yakni berdasarkan (1) Tema, (2) Rasa,
(3) Nada, (4) Amanat /tujuan/maksud.
JEMBATAN
Oleh : Sutardji Calzoum Bachri
Oleh : Sutardji Calzoum Bachri
Sedalam-dalam sajak takkan mampu
menampung airmata
bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi
dalam ewuh pekewuh dalam isyarat dan kilah tanpa makna.
bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi
dalam ewuh pekewuh dalam isyarat dan kilah tanpa makna.
Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang
jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota.
Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang. Wajah legam
para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase
indah di berbagai palaza. Wajah yang diam-diam menjerit
mengucap
tanah air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu !
Tapi wahai saudara satu bendera kenapa kini ada sesuatu
yang terasa jauh diantara
kita? Sementara jalan jalan
mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang
di antara kita ?
mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang
di antara kita ?
Di lembah-lembah kusam pada
pucuk tulang kersang dan otot
linu mengerang mereka pancangkan koyak-moyak bendera hati
dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak ammpu
mengucapkan kibarnnya.
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi
linu mengerang mereka pancangkan koyak-moyak bendera hati
dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak ammpu
mengucapkan kibarnnya.
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi
padamu negeri
airmata kami.
airmata kami.
Setelah mengamati puisi
“Jembatan” karya Sutardji ini ditemukan tema atau gagasan pokok yang dikembangkan
penyair. Tema merupakan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair
(Waluyo, 1987:106). Ungkapan tersebut mengindikasikan bahwa tema merupakan
sebuah atmosfer dari sebuah puisi, sebuah puisi pasti memiliki sebuah tema
(umumnya satu) yang melingkupi keseluruhan puisi. Pada puisi “Jembatan” karya
Sutardji memiliki tema yaitu pertama tentang sajak dan kata-kata yang dipakai penyair dari dulu sampai sekarang untuk menggambarkan permasalahan bangsa, kedua
mengenai kondisi rakyat Indonesia, ketiga tentang permasalahan kesatuan rakyat Indonesia, dan ke-empat
mengenai orang yang dapat menjaga
kesatuan Indonesia. Menurut saya, Sutardji ini menuliskan puisi dengan
makna yang sangat mendalam dan sampai sekarang masih sangat aktual.
Sedalam-dalam sajak takkan mampu
menampung airmata
bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi
dalam ewuh pekewuh dalam isyarat dan kilah tanpa makna.
bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi
dalam ewuh pekewuh dalam isyarat dan kilah tanpa makna.
Pada bait pertama, tema yang
ditemukan adalah mengenai puisi atau sajak dan kata-kata yang dipakai oleh
penyair-penyair pada masa Sutardji menulis puisi “Jembatan” sampai sekarang
dalam mengahadapi permasalahan bangsa, “Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung
airmata” saya memaknai sepenggal bait ini menjelaskan
bahwa tidak ada kata pada sajak yang bisa menggambarkan
air mata yang merupakan duka bangsa Indonesia, karena “Kata-kata telah lama terperangkap dalam
basa-basi/dalam ewuh pekewuh dalam isyarat dan kilah tanpa makna” karena kata-kata dianggapnya basa-basi yang sedikit atau sama sekali
tidak memiliki makna. Ketidakpuasan dari Sutardji atas sajak-sajak yang
dituliskan untuk menampung duka atau air mata bangsa, menurutnya persoalan
bangsa ini sudah tidak mampu lagi ditampung oleh sajak. Saya berpendapat bahwa
Sutardji hendak menjelaskan bahwa persoalan yang dialami oleh bangsa Indonesia
ini sudah sangat sulit digambarkan oleh kata-kata.
Tema kedua ialah mengenai kondisi rakyat Indonesia, kondisi bangsa indonesia pada saat Sutardji menulis sajak “Jembatan” tidak jauh berbeda dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Banyaknya persoalan di negeri ini menjadi latar belakang puisi “Jembatan” ini, keberadaan rakyat kecil yang berada dimana-mana, hidup yang dijalani sebatas menemukan sesuap nasi. Terjadi ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin. Fenomena-fenomena yang terjadi tergambar pada penggalan sajak berikut :
Tema kedua ialah mengenai kondisi rakyat Indonesia, kondisi bangsa indonesia pada saat Sutardji menulis sajak “Jembatan” tidak jauh berbeda dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Banyaknya persoalan di negeri ini menjadi latar belakang puisi “Jembatan” ini, keberadaan rakyat kecil yang berada dimana-mana, hidup yang dijalani sebatas menemukan sesuap nasi. Terjadi ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin. Fenomena-fenomena yang terjadi tergambar pada penggalan sajak berikut :
Maka Aku
Pun Pergi Menatap Pada Wajah Orang Berjuta
Wajah
Orang Jalanan Yang Berdiri Satu Kaki
Dalam
Penuh Sesak Bis Kota
Wajah
Orang Tergusur
Wajah Yang
Ditilang Malang
Wajah
Legam Pemulung Yang Memungut Remah-Remah Pembangunan
Wajah Yang
Hanya Mampu Menjadi Sekedar
Penonton
Etalase Indah Di Berbagai Plaza
Wajah Yang
Diam-Diam Menjerit Melengking
Pada penggalan puisi berikut penyair ingin
menggambarkan keadaan bangsa Indonesia, kondisi masyarakat yang begitu
mengkhawatirkan. Kemiskinan menjadi salah satu penyebab kesatuan bangsa
Indonesia menjadi dipertanyakan. Bagaimana bisa saudara sebangsa kita merasakan
kelaparan sedangkan tak sedikit dari kita membuang makanan dengan sengaja,
bagaimana kita bisa membiarkan saudara sebangsa dan setanah air merasakan
kesusahan untuk mempertahankan kehidupan sementara tak sedikit dari kita banyak
yang membuat kerusakan, hal ini menjadi permasalahan yang aktual karena sampai
saat ini keadaan seperti yang digambarkan pada sajak “Jembatan” masih bisa
dirasakan. Menurut saya, persoalan ketimpangan sosial yang menjadikan jarak
semakin terlihat, dan makna “jembatan” merupakan penghubung antara hati nurani
bangsa Indonesia yang seakan sudah terpisah jauh. Hal ini di perkuat dengan
kalimat “tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang di antara kita?” di
sini jelas bahwa dengan jelas si tokoh melihat jurang pemisah di antara si kaya
dengan si miskin sebagai permasalahan yang mendasar. Dengan demikian maka jelas
bahwa tema yang terkandung dalam puisi di atas adalah tema sosial.
Tema yang ketiga adalah permasalahan kesatuan rakyat Indonesia. Kesatuan merupakan akibat dari
permasalahan keadaan bangsa Indonesia. Setelah dijelaskan pada tema kedua,
dapat disimpulkan bahwa kesatuan adalah yang diharapkan oleh Sutardji sebagai
jawaban atas permasalahan bangsa Indonesia, seperti pada semboyan Bhineka
Tunggal Ika dan pada lirik lagu nasioal “satu nusa satu bangsa satu bahasa”,
Sutardji menuliskan :
tanah
air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu !
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu !
Saya menyimpulkan bahwa Sutardji ingin menanyakan bagaimana kesatuan bangsa Indonesia, dari berbagai permasalahan seharusnya seluruh bangsa Indonesia bisa saling mengulurkan tangan karena merasa jiwa yang tinggal di tanah air ini adalah jiwa saudaranya sendiri. Kesatuan merupakan hal yang mendasar untuk suatu negara bisa berdiri, begitu pula dengan bangsa Indonesia.
Tema yang ke empat adalah mengenai orang yang dapat menjaga kesatuan Indonesia. Tergambar pada bait :
Tapi
wahai saudara satu bendera kenapa kini ada sesuatu
yang terasa jauh diantara
kita? Sementara jalan jalan
mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang
di antara kita ?
mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang
di antara kita ?
Jembatan yang dimaksudkan adalah
kesatuan sebagai penghubung rasa, Sutardji ingin menanyakan siapa yang mampu
menjaga kesatuan bangsa Indonesia kalau bukan masyarakat Indonesia, siapa yang
akan membantu permasalahan saudara satu bangsa khususnya masyarakat dengan
keadaan ekonomi rendah kalau bukan masyarakat Indonesia sendiri. Orang yang
memiliki kemampuan membantu hendaknya membantu saudara yang kesusahan karena
sebenarnya kesatuan adalah bagian penting berdirinya negara Indonesia.
Perasaan (feeling) adalah suasana
perasaan penyair yang ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca
(Waluyo, 1987:121). Perasaan setiap penyair tentunya berbeda, hal inilah
yang membedakan sikap penyair yang satu dengan penyair yang lain walaupun
terhadap sesuatu hal yang sama. Saya berpendapat bahwa perasaan empati penyair
menjadi hal utama yang melandasi terciptanya puisi tersebut. Keadaan yang
dirasakan penyair puisi “Jembatan” Sutardji adalah kesedihan atas segala
permasalahan yang terjadi di Indonesia dan atas bagaimana sikap bangsa
Indonesia dalam menghadapi permasalahan bangsa Indonesia.
Sedalam-dalam
sajak takkan mampu menampung airmata
bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi
dalam teduh pekewuh dalam isyarat dan kisah tanpa makna.
Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang
jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota.
Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang. Wajah legam
para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase
indah di berbagai plaza. Wajah yang diam-diam menjerit
mengucap
tanah air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu!
Tapi wahai saudara satu bendera kenapa sementara jalan jalan
mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang
di antara kita?
Di lembah-lembah kusam pada puncak tilang kersang dan otot
linu mengerang mereka pancangkan koyak-miyak bendera hati
dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak mampu
mengucapkan kibarnya.
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi padamu negeri airmata kami.
bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi
dalam teduh pekewuh dalam isyarat dan kisah tanpa makna.
Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang
jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota.
Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang. Wajah legam
para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase
indah di berbagai plaza. Wajah yang diam-diam menjerit
mengucap
tanah air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu!
Tapi wahai saudara satu bendera kenapa sementara jalan jalan
mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang
di antara kita?
Di lembah-lembah kusam pada puncak tilang kersang dan otot
linu mengerang mereka pancangkan koyak-miyak bendera hati
dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak mampu
mengucapkan kibarnya.
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi padamu negeri airmata kami.
Di dalam puisi ini penyair menjadi
tokoh yang mampu melihat suatu kejadian dan merasakan kejadian yang dialami
oleh bangsa Indonesia. Penyair ingin menuliskan isi hati atas segala persoalan.
Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu, atau akibat
psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca.
Nada adalah sikap penyair dalam
menyampaikan puisi terhadap pembaca, beraneka ragam sikap yang sering digunakan
oleh penyair, seperti “…apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati,
menyindir, atau bersikap lugas…”(Waluyo, 1987:125). Menurut saya, Sutardji
dalam puisinya berjudul “Jembatan” menyampaikan puisi dengan nada yang lugas,
dengan melihat bagaimana kosa kata yang dituliskan yaitu mudah dipahami, penuh
estetika, dan mampu membuat pembaca merasakan makna dari sajak tersebut.
Misalnya, dalam menyampaikan persoalan ketimpangan sosial dan kesatuan,
Sutardji menggunakan gaya bahasa yang mampu menyentuh hati pembaca.
Setelah mengamati makna dari sajak
“Jembatan” saya dapat menemukan banyak sekali amanat, penyair ingin
mengingatkan bagaimana pun rupa persoalan negeri ini pemecahannya adalah
kesatuan dari bangsa Indonesia. Dalam hidup terdapat banyak sekali
permasalahan, perbedaan menjadi landasan bagaimana kehidupan bisa berjalan
dengan penuh makna. Hal ini adalah bagian paling sederhana, karena Indonesia
adalah negara kesatuan. Yang kaya mengulurkan tangannya pada yang miskin, yang
kuat membahu yang lemah. Adapun makna semboyan Bhineka Tunggal Ika adalah
berbeda-beda tetapi tetap satu, seharusnya menjadi cerminan atas segala
permasalahan. Negeri ini lahir dengan semangat gotong royong, dan seharusnya
terus bergotong royong dalam menghadapi segala masalah yang dihadapi.
Menguraikan
puisi “Jembatan” karya Sutardji Calzoum Bachri
metode puisi secara intrinsik menjadikan makna dalam puisi itu lebih mudah
untuk diapresiasi. Dengan demikian puisi sebagai karya sastra bukanlah sesuatu
yang sulit dipahami dan dimaknai. Puisi “Jembatan” sebagai ungkapan atas
kesatuan bangsa Indonesia yang diharapkan bisa menjembatani segala rupa
persoalan yang dialami oleh bangsa Indonesia.***

Terima kasih mba, atas ilmunya
BalasHapusSama-sama
HapusMembaca ini dengan nada nada musikalisasi soul id
BalasHapusPuisinya menarik.
HapusPuisi SCB favorit saya nih
BalasHapusBetul, karya beliau sangat luar biasa.
Hapusterimakasih sudah berbagi ilmu mba🙏
BalasHapusTerima kasih kembali, Ka. Sukses selalu.
Hapusterima kasih banyak, sangat membantu tugas kami. terima kasih sudah berbagi ilmu mbak
BalasHapusSama-sama Mba.
HapusKeren Kak
BalasHapusTerima kasih
Hapus